Bekraf Gandeng BRIS Majukan UMKM
JAKARTA -- Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menggandeng BRISyariah (BRIS) untuk membantu akses pembiayaan kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pemberian akses pembiayaan ini diharapkan dapat menggerakkan ekonomi kreatif, terutama yang bergerak di bidang gaya hidup Muslim.
Deputi Akses Permodalan Bekraf Fadjar Hutomo mengatakan, ada tiga subsektor yang memberikan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai lebih dari 50 persen. Ketiga subsektor tersebut adalah kuliner, fashion (node), dan kerajinan. Potensi pasar untuk kuliner halal dan fashion Muslim sangat besar.
Bekraf bahkan menargetkan Indonesia sebagai pusat fashionMuslim dunia pada 2020.
Potensi fashion Muslim di negara-negara non-Muslim cukup besar karena di sana baju Muslim kita digunakan sebagai baju musim dingin dan itu sudah mulai diterima, ujar Fadjar, akhir pekan lalu.
Melalui kerja sama ini, Bekraf dan BRIS berharap dapat menjadikan ekonomi kreatif sebagai tulang punggung perekonomian nasional.
Fadjar menambahkan, pembiayaan syariah bisa dikembangkan dengan berbasis sumber daya manusia (SDM), bukan berbasis komoditas.
Fadjar mengatakan, Bekraf dan BRIS sudah bersinergi dalam berbagai program. Salah satunya dengan menyelenggarakan kelas keuangan syariah di berbagai kota di Indonesia yang menjadi sentra-sentra UMKM.
Kami sangat ber harap BRI Syariah dapat menyalurkan pen danaan bagi UMKM yang potensial, kata Fadjar.
BRIS memang sedang menargetkan peningkatkan pertumbuhan pembiayaan mikro mencapai 25 persen pada 2017. Kerja sama dengan Bekraf menjadi salah satu cara untuk mencapai target pembiayaan mikro tersebut.
Kami ini hampir sama dengan induk. Kalau induk kuat di mikro maka kami juga harusnya sama, ujar Direktur Bisnis Mikro dan Pendanaan BRIS Erdianto Sigit.
Erdianto menjelaskan, BRIS memiliki tiga skala pembiayaan mikro yakni Rp 25 juta, Rp 75 juta, dan Rp 200 juta. Untuk pembiayaan sampai dengan Rp 25 juta, BRIS tidak mengutamakan ada agunan, tetapi melakukan seleksi secara tepat dengan melihat kelayakan individu yang akan mendapatkan pembiayaan. Sedangkan, pembiayaan dengan plafon sampai Rp 75 juta, agunannya tidak harus dalam bentuk sertifikat.
Dari tiga skala tersebut, jumlah penyaluran pembiayaan yang paling besar saat ini adalah pembiayaan dengan plafon Rp 75 juta dan Rp 200 juta. Sampai akhir Oktober 2016, pertumbuhan pembiayaan BRIS sudah mencapai Rp 5,6 triliun. BRIS menargetkan pembiayaan mikro bisa tembus sampai angka Rp 6 triliun pada tahun ini.
Pembiayaan BRIS paling banyak disalurkan untuk sektor perdagangan dan jasa dengan persentase di atas 60 persen. Sedangkan, sisanya disalurkan untuk sektor industri pengolahan, transportasi, dan jasa keuangan. (ed:satria kartika yudha)


.jpg)