FOKUS Sektor Mikro, Moch Hadi Santoso Direktur Utama BRISyariah
Bank Syariah dinilai memiliki potensi besar untuk memperbesar dana murah dari segmen mikro ke bawah. Meski sebagian besar belum bankable, segmen mikro ke bawah juga berpotensi menjadi sasaran pembiayaan. Bagaimana BRI Syariah menggarap sektor mikro ini? Berikut petikan wawancara wartawan RepublikaQommarria Rostanti dengan Direktur Utama BRI Syariah Moch Hadi Santoso, di Jakarta, Kamis (11/7).
Bagaimana kinerja PT Bank BRI Syariah hingga semester I 2013?
Alhamdulillah masih dalam jalur. Aset per Juni 2013 sudah Rp 16,4 triliun, tumbuh dari Rp 11,5 triliun. Sementara di Desember 2012 aset sebesar RP 14 triliun. Pertum buh - an total aset sebesar 44 persen (yoy). Pem - biayaan hingga Juni 2013 sebesar Rp 13,3 triliun dari Rp 9,7 triliun di periode yang sama tahun sebelumnya. Target pembiayaan Rp 18,5 triliun hingga akhir tahun. Pembia - yaan tumbuh 37 persen (yoy). Laba mencapai Rp 104,9 miliar per Juni 2013, tumbuh dari Rp 65,1 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Pada Desember 2012, laba se telah pajak sebesar Rp 101,8 miliar. Per tum buhan laba dari tahun ke tahun sebesar 61 persen. Dana pihak ketiga (DPK) juga tum buh, tapi tidak secepat pembiayaan. DPK per Juni Rp 12,8 triliun, naik dari Rp 8,6 tri liun di Juni 2012.
Pertumbuhan DPK se besar 48 persen (yoy).
DPK masih didomina si deposito 76 persen, sisanya adalah ta bung an dan giro. Target DPK hingga akhir ta hun Rp 18 triliun.
Memang masih agak jauh dari target, tapi kami tidak akan me nye rah.
Bagaimana strategi BRI Syariah untuk menggenjot DPK?
Ada dua cara. Pertama, dengan mendo - rong kinerja karyawan. Misalnya dengan sistem door to doorkepada masyarakat un - tuk menggenjot DPK tadi. Kedua, dengan mengikuti pasar yang ada. Kami masih terus berusaha mencari dana murah. Kami juga akan terus memperkenalkan diri ke masya - ra kat lewat berbagai media baik cetak mau - pun elektronik. Intinya, kami menunjukkan bahwa BRI Syariah ada dengan berbagai kelebihan yang kami miliki.
Apa target bisnis BRI Syariah?
Kami sekarang lebih mendorong ke sektor mikro dan ritel. Sejauh ini masih didominasi komersial hampir 32 persen.
Kalau sektor komersial terlalu dominan ma - ka tidak akan bagus, makanya kami genjot mikro. Sebenarnya, bisnis mikro sudah sejak dua tahun lalu kami geluti. Namun bedanya, saat ini kami lebih fokus mengarahkannya, misalnya lewat penambahan karyawan di bisnis mikro.
Mengapa tertarik pada sektor mikro?
Karena potensi pasarnya masih ada. Se - karang kita lihat banyak muncul peng usaha muda atau orang kaya baru. Sebenarnya, itu adalah pengusaha mikro hasil garapan bisnis mikro dari sekian tahun lalu. Saya yakin ke depannya akan makin banyak peng usaha muda dan orang kaya baru yang berhasil karena bisnis mikro yang kami ga rap. Banyak orang dari sektor mikro yang berhasil, kemu- dian meningkat jadi bisnis, kemudian jadi ritel. Itu benar terjadi dan memang terbukti.
Jadi, kenapa tidak kami serius garap sektor ini? Kalau bicara mikro dan ritel, saya harap kontribusinya 30 persen.
Bagaimana cara bersaing dengan bank- bank syariah lain yang kini juga gencar me nyasar sektor mikro?
Saya merasa tidak ada persaingan antara sesama bank syariah karena potensinya pun masih sangat banyak. Daripada bersaing, lebih baik kita garap bersama dan saling mengisi satu sama lain. Industri perbankan syariah potensinya sangat besar. Sudah menjadi kewajiban kita bersama untuk meyakinkan masyarakat agar mau menggu- nakan perbankan syariah. Jadi, tidak usah ada persaingan.
Kalau memang potensinya besar, lalu mengapa hingga kini market shareper- bankan syariah Tanah Air masih kecil?
Bank syariah tertua di Indonesia adalah Bank Muamalat Indonesia yang baru berdiri 1991. Usia bank syariah tertua pun masih sangat muda. Jadi, wajar jika pangsa pasar perbankan syariah masih kurang dari lima persen. Namun, ini tidak serta merta dib- iarkan begitu saja. Perlu ada upaya dalam mempercepat pertumbuhan market share perbankan syariah nasional. Saya setuju dengan idenya Menteri BUMN Dahlan Iskan membentuk bank syariah BUMN untuk memperbesar industri ini. Atau misalnya dengan cara mempersilakan bank syariah mengelola dana BUMN.
Apakah Anda setuju dengan ide meng- gabungkan bank-bank syariah anak Bank BUMN?
Itu salah satu cara yang saya kurang setuju karena banyak pertimbangan. Jika bank-bank syariah anak Bank BUMN diga- bungkan, maka tujuan semula untuk mem- besarkan akan stagnan. Dalam dua tahun justru tidak akan ada pertumbuhan karena perlu waktu menyesuaikan budaya masing- masing bank dan sistem Teknologi Informasi (TI). Belum lagi masalah brandingyang akan membuat gabungan bank syariah berkutat di sana dan malah tidak akan besar.
Bank syariah dapat dibesarkan dengan cara induk bank mematok target anak per - usahaan syariahnya atau melalui proyek- pro yek pemerintah yang dipercayakan ke bank syariah. Saya tidak menyalahkan pe - me rintah kenapa hingga kini belum me - nyalurkan dananya ke bank syariah. Peme - rin tah pasti punya hitungan tersendiri kena - pa tidak melakukan itu. Untuk menda pat - kan semua itu, bank syariah harus bermodal kuat.
Sejauh ini bagaimana dukungan induk (BRI) terhadap bisnis BRI Syariah?
Alhamdulillah, induk kami sangat men- dukung. BRI berkomitmen membesarkan BRI Syariah. Belum lama ini kami mendapat suntikan modal Rp 500 miliar. Dengan ada - nya suntikan modal ini, modal disetor BRI Syariah meningkat dari Rp 979 miliar men - jadi Rp 1,479 triliun. Penambahan ini me - nam bah optimisme kami mencapai target aset Rp 22 triliun di akhir 2013. Penam - bahan modal akan kami gunakan untuk mengembangkan bisnis melalui ekspansi pembiayaan dan pembukaan kantor cabang di seluruh Indonesia. Suntikan modal ini juga akan kami gunakan untuk persiapan penempatan dana haji. Dukungan induk sangat luar biasa. Kami sering dilibatkan dalam kegiatan mereka, seperti yang ter- akhir kemarin dalam Jakarta Islamic Fa - shion Week 2013. Induk 100 persen men- dukung bisnis kami.
Bagaimana dengan dukungan TI?
Berbeda dengan bank syariah lain yang sistem TI nya masih menempel induknya, kami justru sudah terpisah. Namun, dengan pemisahan ini kami masih mendapat du - kung an untuk perbaikan lebih baik. Con - tohnya BRI mempunya gedung TI khusus di Ragunan, Jakarta, dan Tabanan, Bali. Di sana, kami disediakan tempat khusus untuk mem-back upserver di sana. Induk mendiri - kan kami bukan untuk ditinggalkan. Induk tidak memasang target kepada BRI Syariah.
Justru kami memasang sendiri dan hasilnya kami laporkan ke induk. Sejauh ini induk puas dengan kinerja kami.
Berbicara soal dana haji, bagaimana per siapan BRI Syariah menghadapi kebi- jakan baru ini?
Kami sudah mempersiapkan segalanya, termasuk persiapan menjadi bank devisa.
Kami sudah lama menggarap dana haji.
Bedanya, saat ini Kementerian Agama mem- fokuskan dana haji pada bank syariah. Dulu, kami menduduki peringkat ke-16, namun saat ini berhasil mencapai posisi enam besar dalam mengumpulkan dana haji.
Apakah tahun ini ada ekspansi outlet?
Tahun ini kami berencana menambah total 85 kantor. Penambahan ini sudah di - proses ke Bank Indonesia (BI). Masih sekitar 30-an lagi yang harus ditambah. Mudah- mudahan tidak sampai akhir tahun penam- bahan kantor sudah selesai. Saat ini kami memiliki 50 kantor cabang, 165 kantor ca - bang pembantu, 8 kantor kas, dan 363 kan - tor layanan syariah. Bagi kami, menambah jaringan kantor sangat penting. Saya meli - hat masyarakat Indonesia ingin disentuh dengan cara seperti itu. BRI Syariah tidak hanya membuka kantor di Pulau Jawa, tapi juga di Sumatra, Sulawesi dan Kalimantan.
Kami dapat mengumpulkan dana murah di sana. Kalau di Jakarta dananya sudah mahal.
Bagaimana minat perbankan syariah di daerah?
Minat perbankan syariah di daerah cu - kup tinggi. Bahkan, di daerah yang mayori- tas penduduknya non-Muslim seperti Mana - do dan Denpasar. Mereka meminati per- bankan syariah karena caranya pengelolaan keuangannya lebih pasti. Di perbankan sya - riah, setiap transaksi harus ada underlying.
Kaum non-Muslim pun ingin kepastian.
Sejauh ini produk yang paling diminati na - sabah non-Muslim adalah Murabahah.
Apa kontribusi BRI Syariah dalam mem- perbesar market sharedi Tanah Air?
Kami kerap mendatangi perusahaan mi - lik negara, misalnya Telkom, untuk me na - warkan pembiayaan. DPK dari mereka juga bisa kami kelola. Selain Telkom, ada juga PLN. Kami menawarkan layanan pemba- yaran listrik dan pulsa. Kami menjadi bank terbesar kedua sebagai pengumpul pemba- yaran pulsa terbanyak. Ini membuktikan bahwa kami siap dipercaya. Kami terbiasa menguji diri dan membuktikan bahwa kami layak dipercaya. Dari pihak perguruan ting - gi (PT) juga sudah ada yangjoint, mulai dari pembayaran SPP hingga kartu mahasiswa.
Tahun depan pengawasan perbankan ber alih dari BI ke Otoritas Jasa Keuang - an (OJK). Apa harapan Anda?
Saya pikir harus menjadi lebih baik. BI sangat detail mengawasi kami. Minimal OJK dapat melakukan hal sama dengan BI.
Pengawasan baik membuat kami melangkah di koridor yang jelas.
Menurut Anda, bagaimana regulasi ter- hadap perbankan syariah saat ini?
Saya berusaha mencoba melihat banyak hal positif dari setiap regulasi. Khawatirnya jika saya mengatakan regulasi kurang baik, nanti ketika diperbaiki oleh regulator justru malah kami yang belum siap. Namun, dari setiap regulasi yang dikeluarkan, saya selalu tanya peraturan itu dibuat untuk apa dan mau dibawa ke mana. Misalnya aturan per- modalan yang belum lama ini dikeluarkan BI. Dalam aturan itu setiap pembukaan ca - bang harus dikaitkan dengan modal. Ada pi hak yang berkeberatan dengan ini. Tapi, me nurut saya, aturan itu bagus karena membuat bank tidak hanya berkonsentrasi pada pembukaan cabang di Jakarta. Dengan ada nya kemudahan di luar Jakarta, maka ma syarakat akan terdorong menggunakan la yanan perbankan syariah sehingga inklusi keuangan akan terwujud. Namun, pemerin - tah perlu sekali-sekali menguji dan memer- cayai perbankan syariah. Kalau tidak per - nah dicoba dan dipercaya, kapan kami jadi besar? Ujilah kami misalnya lewat sebagian dana BUMN yang dipercayakan pada kami.
Bagaimana pendapat Anda mengenai program Gerakan Ekonomi Syariah (GRES!) yang baru saja diluncurkan Pu sat Komunikasi Ekonomi Syariah (PKES)?
Saya sangat mendukung. GRES! adalah forum komunikasi baik yang mampu me - nyosialisasikan ke masyarakat tentang eko - nomi syariah. Kegiatan seperti ini perlu dila - ku kan mengingat usia perbankan syariah yang masih muda sehingga perlu gencarnya bantuan sosialisasi. (ed:irwan kelana)
Bersepeda ke Kantor
Oleh Qommarria Rostanti
Posisi sebagai direktur uta - ma tidak membuat Moch Hadi Santoso me lupakan pentingnya berolahraga. Di tengah-tengah kesibukannya, Hadi selalu me nyempatkan berolahraga se pe da, treadmill, pingpong, ataupun golf. \"Sepekan, rutin minimal dua kali,\" ujarnya kepada Re publika, Kamis (11/7).
Hadi terbiasa berangkat ker ja ke kantornya di kawasan Gam bir, Jakarta Pusat, mengguna kan sepeda dari rumahnya di Pondok Kopi, Jakarta Timur. Ja raknya sekitar 23 kilometer. Se belum Ramadhan, Hadi mela ku kan aktivitas tersebut pada Sela sa atau Rabu. Mobil pribadi Hadi biasa membuntuti dari belakang.
\"Berangkat dari rumah sekitar pukul 05.30, kadang mobil be lum datang saya sudah bersepeda duluan,\"ucapnya.
Hadi merasakan manfaat da ri kebiasaannya. Tubuhnya me rasa lebih sehat dan segar serta berse- mangat dalam memimpin perusahaan.
Sama seperti manusia lain, Hadi terkadang malas memulai olahraga.
Namun, itu hanya di awalnya saja.
Begitu sudah me mulai, Hadi mengaku sulit ber henti olahraga.
Kebiasaan positif tersebut telah dilakukannya sejak muda. \"Dari saya sekolah sudah aktif berbagai kegiatan, seperti naik gunung dan bela diri,\" ujarnya.
Jika sedang bertugas di luar kota, Hadi tak lupa membawa sepatu olahraga dan menyempatkan diri berolahraga pagi hari setelah Subuh. (ed: irwan kelana)
Biodata
Lahir di Madiun tahun 1957.
Menyelesaikan strata satu (S-1)
Fakultas Ekonomi Perusahaan dari UPN Veteran Yogyakarta tahun 1984, dan strata dua (S-2) Magister Ma najemen dari Universitas Indonesia (UI), Jakarta, pada tahun 1999. Memu - lai karier dunia perbankan di PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk pada tahun 1985. Pernah mengemban ber - ba gai jabatan penting, di antaranya pe mimpin Cabang Jakarta Otista (2001), wakil pemimpin wilayah Kantor Wilayah Padang (2002-2004), wakil pemimpin wilayah Kantor Wilayah Bandung (2004-2007), wakil pemimpin wilayah Kantor Wilayah Jakarta (2007), Kepala Divisi Jaringan Kerja Bisnis Ritel (2007 -2009), pemimpin wilayah Kantor Wilayah Bandung (2009-2011).
Menjabat sebagai direktur utama PT Bank BRI Syariah sejak tanggal 26 Januari 2012.


.jpg)