Sukuk Mudharabah BRI Syariah Oversubscribed 200 Persen

Sukuk mengalami kelebihan permintaan hingga Rp 2,17 triliun.

BRI Syariah secara resmi melakukan pencatatan perdana Sukuk Mudharabah Subordinasi I BRI Syariah Tahun 2016 di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (17/11). Nilai sukuk, dengan rating id A+ dari Fitch, yang diterbitkan sebesar Rp 1 triliun ini pun mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga Rp 2,17 triliun.

Direktur Ritel dan Bisnis Komersial BRI Syariah Indra Praseno mengatakan, penerbitan sukuk tersebut mengalami kelebihan permintaan. “Sukuk Mudharabah BRI Syariah mencatat kelebihan permintaan sampai lebih dari 200 persen dengan sebagian besar adalah investor dalam negeri,” katanya usai pencatatan perdagangan perdana Sukuk Mudharabah Subordinasi I BRI Syariah Tahun 2016 di Main Hall BEI, Kamis (17/11).

Direktur Utama BRI Syariah Moch Hadi Santoso menuturkan, Sukuk Mudharabah diluncurkan dengan tujuan untuk mendukung pertumbuhan bisnis di masa mendatang dan memperkuat struktur permodalan. “Ini dalam rangka menunjang ekspansi bisnis guna mengembangkan kegiatan pembiayaan syariah serta menjaga likuiditas jangka panjang dengan diperhitungkan sebagai modal pelengkap (Tier 2) serta peningkatan komposisi struktur penghimpunan dana jangka panjang,” paparnya.

Dengan penerbitan sukuk ini, ia pun mengharapkan pangsa pasar BRI Syariah di industri perbankan syariah nasional akan meningkat. “Saat ini pangsa pasar BRI Syariah delapan persen, nanti harapannya kami bisa menambahkan posisinya menjadi lebih tinggi ke depannya. Pangsa pasar harapannya tahun depan minimal 10 persen,” cetus Hadi.

Per 30 September 2016, aset BRI Syariah meningkat Rp 2,75 T Click To Tweet

Per 30 September 2016, aset BRI Syariah meningkat Rp 2,75 triliun, atau tumbuh 12,07 persen dari Rp 22,81 triliun menjadi Rp 24,53 triliun. Pembiayaan juga naik 7,72 persen atau bertambah Rp 1,27 triliun, dari Rp 16,47 triliun menjadi Rp 17,74 triliun. Sementara, dana pihak ketiga tumbuh 11,17 persen, dari Rp 18,86 triliun menjadi Rp 20,97 triliun. Laba tumbuh 9,96 persen