Sukuk Ritel masih Diminati
Kupon sukuk ritel 8,75% dinilai cukup besar karena tenornya pendek.
DI Tahun Kuda Kayu ini, daya tarik surat utang syariah negara atau sukuk masih terbi lang tinggi. Buktinya, instrumen investasi berakad syariat Islam itu masih diburu masyarakat di seluruh pelosok Tanah Air.
Berdasarkan situs resmi Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang (DJPU), pemerintah menerbitkan sukuk negara ritel berseri SR-006 dengan tenor 3 tahun kepada setiap warga negara Indonesia pada akhir pekan lalu. Melalui 28 agen penjual, yakni 19 bank dan 9 perusahaan efek, surat utang itu dipasarkan dengan tingkat imbalan tetap 8,75% tiap tahun. Masa penawaran akan dilakukan hingga 28 Februari mendatang.
Dalam sepekan masa penawaran sukuk, 10 ribu investor telah mengajukan permin taan dengan nilai total Rp5,8 triliun. Mayoritas investor merupakan karyawan swasta.
Kemudian diikuti wirausaha dan ibu rumah tangga.
Berdasarkan pantauan Media Indonesia ke agen-agen penjual, sejumlah bank kebanjiran permintaan. Contohnya, PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Syariah telah membukukan penjualan Rp285 miliar.
Artinya, anak usaha dari BRI itu telah menjual 90% dari total kuota yang diterimanya, yakni Rp315 miliar.
“Minat masyarakat akan sukuk ini cukup baik. Karena kuponnya naik menjadi 8,75%,“ ujar Direktur Bisnis BRI Syariah Ari Purwandono melalui pesan singkat, kemarin.
Bank Syariah Bukopin (BSB) juga turut meluncurkan sukuk ritel dengan seri SR-006.
Di rektur Bisnis Bank Syariah Bukopin Harry Ramono mengatakan, untuk pelun curan sukuk ritel kali ini, BSB kembali menggandeng Mega Capital. “Tahun ini kami mau tumbuh sebesar Rp 800 miliar dari tahun lalu sebesar Rp3,3 triliun,“ ujarnya di Jakarta, Selasa (18/2).
Kupon premium Saat dihubungi terpisah, analis obligasi dari Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan sukuk ritel diproyeksikan masih menjadi instrumen investasi yang menarik tahun ini. Sebab bunga yang ditawarkan cukup tinggi dan minat masyarakat terhadap surat berharga Islami meningkat.
Ia menjelaskan, kondisi ekonomi nasional saat ini terbilang lebih stabil ketimbang tahun lalu. Hal itu terlihat dari tingkat inflasi yang lebih rendah. Hingga penghujung 2013, tingkat inflasi, sesuai hasil kajian Bank Mandiri, diperkirakan hanya mencapai 5,3%, jauh di bawah tahun lalu yang mencapai 8,3%.
Indikator lainnya ialah nilai tukar rupiah yang mengalami tren penguatan. Nilai tukar rupiah diproyeksikan akan menguat ke level Rp11.400 per dolar AS.
Sementara itu, surat utang yang berjaminan aset itu me nawarkan bunga sebesar 8,75%. Tingkat bunga itu di nilai cukup besar karena tenornya pendek. Bandingkan dengan tingkat bunga obligasi pemerintah bertenor 10 tahun sebesar 8,87%.
“Kupon sukuk ritel ini lumayan premium. Artinya, investor masih memiliki margin keuntungan dari investasinya.
Ada capital gain atau keuntungan dari dana yang diinvestasikan,“ tutur Andry.
Di samping itu, minat masyarakat akan Sukuk kini mulai meningkat. Hal itu terjadi seiring dengan peningkatan pengetahuan terhadap obligasi syariah ini.
“Biasanya masyarakat memegang sukuk sampai jatuh tempo atau hold to maturity.
Artinya, mereka membeli sukuk benar-benar untuk investasi.“ (*/E-4) wesly@mediaindonesia.com


.jpg)